Minggu, 02 Juni 2013

TAK SELAMA INDAH: MY BIG FAMILY

TAK SELAMA INDAH: MY BIG FAMILY:    Siapa lagi yang harus aku banggakan kalau bukan "mereka", Ayah Bunda adalah segalanya bagiku. Berkumpul dengan merekalah kebeh...

MY BIG FAMILY

   Siapa lagi yang harus aku banggakan kalau bukan "mereka", Ayah Bunda adalah segalanya bagiku. Berkumpul dengan merekalah kebehagaian seutuhnya. Aku anak kedua dari empat bersaudara, kami semua pejantan tangguh kata orang. Kami "bahagia", keluarga yg sangat bahagia saat itu. 
    Ayah saya seorang pemandu tour di biro jasa Tour & Travel ternama kala itu, sedangkan Mama saya bekerja seabgai Guru PNS sekolah dasar dengan golongan kecil. Rumah kami kecil sederhana dari dinding pagar bambu dengan genteng agak berkelas. Rumah kami sangatlah indah, pernak pernik menghiasi setiap ruangan dirumah kami. TV dua buah, yang dikamar orang tua satu buah 14" merk ternama dan di ruang keluarga 1 buah 17" merk ternama juga. Semua fasilitas yang ada pada waktu itu bisa di golongkan menjadi barang mewah, karna tidak semua orang bisa memilikinya. Mewah  bukan berarti mahal, dan kami juga bukan orang kaya, tapi termasuk yang termewah dikampung itu. "Orang kaya" banyak dikampung kami, bahkan sampai memiliki sawah sampai belasan hektar bahkan puluhan hektar untuk perkeluarga. sedangkan kami hanya memiliki sepetak kebun dekat sungai kecil di selatan desa. Tapi mereka tidak mampu mengikuti gaya hidup kami, terutama Ayah kami. Mereka hanya bisa "iri" dengan muka munafik apabila berpapasan dengan Ayah, mama, saya dan abang saya.
Hanya sedikit dari masyarakat yang memang betul betul ikhlas dengan kelurga kami, selebihnya semuanya "bajingan".
    Tapi ini semua, kejayaan kami tidak bertahan lama, kemerdekaan bagi "mereka" yang merasa tertindas. Kejayaan kerajaan keluarga kami di titik akhir, semua itu terjadi karena kesombongan, lupa dengan apa yang telah diberikan Nya, tidak pernah bersukur dengan semua itu. Dan berakhirlah semuanya, Allah telah mengambil semua yang dititipkan Nya.
Ayahku terlena dengan wanita lain, dan meninggalkan kami dengan keadaan telah jatuh dari singgasana kejayaan. Mama yang sangat kami sayangi tidak tahan juga dengan nasehat dari keluarga yang menginginkan keluarga kami hancur sejak dulu karena dendam yang terpendam dengan menyuruh Mama kami untuk menikah lagi dan perilaku Ayah yang memamerkan wanita barunya di khalayak masyarakat yang penuh dengan kemunafikan.
Akhirnya Mama pun lari dengan laki laki yang tidak berpendidikan ke kantor urusan agama untuk melaksanakan ijab kabul di depan saksi. Tambah hancur berkeping hati dan jiwa kami, kemana lagi tempat kami bercurah kasih sayang?
    Kini tinggal kami berempat dalam kedamaian, walaupun Ayah bunda kami selalu mengucapkan kata "sayang" kepada kami, namun semua itu terasa asing terdengar di telinga.
Saya tidak menyalahkan siapa siapa, yang saya salahkan adalah diri saya sendiri kenapa sampai terlahir kedunia di keluaga ini. Saya sangat sayang mereka, Abang dan adik adikku, hingga saya selalu berdo'a agar kelak di surga kami berempat bisa bersama sama dalam kebahagiaan yang kekal abadi.
     Dan saya yakin, dibalik semua ini pasti ada hikmahnya, karna saya yakin Allah Maha Segalanya...............
     

                                                     **Aku sayang kalian Saudaraku**